Mitos harapan

bolaskor.me


Mitos harapan


Ini merupakan poin yang menarik dan secara signifikan menambah rasa tertekan dan kewalahan serta meningkatkan level stres secara keseluruhan yang dialami sebagian besar laki-laki. Kami percaya bahwa orang lain memiliki harapan besar terhadap diri kami, tapi seringkali kenyataannya tidak demikian.

Saya telah menghabiskan sebagian besar hidup untuk mencapai sesuatu, mungkin malah terlalu banyak. Saya adalah orang yang sangat ambisius. Saya tidak yakin apakah masa kecil sebagai yatim piatu turut berpengaruh mungkin saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa saya bisa sukses. Menariknya, salah satu alasan terbesar mengapa saya ingin tampil lebih baik atau mencapai lebih banyak kesuksesan dari yang diharapkan adalah karena saya ingin membuat kakak saya bangga terhadap saya. Jadi, saya bekerja sangat keras, selalu berjuang, selalu termotivasi, dan selalu mencapai sesuatu. Kemudian pada suatu hari kakak saya meninggal dan saya ditinggal dengan perasaan kosong dan kebutuhan untuk menemukan alasan lain yang bisa menjelaskan motivasi dan ambisi saya.

Tidak lama kemudian saya sadar bahwa saya harus melakukan segala sesuatunya demi saya sendiri. Bukan untuk membuat orang lain terkesan atau untuk mendapatkan persetujuan mereka. Saya harus melakukannya demi rasa puas saya sendiri. Kesadaran ini benar-benar melegakan. Namun, bersama dengannya, saya menyadari satu hal lagi kakak saya mencintai saya sepenuhnya, tanpa syarat. Ia akan tetap mencintai saya dan bangga pada saya jika pekerjaan saya membersihkan toilet atau menciptakan obat kanker. Seperti itulah kakak saya. Saya termotivasi karena saya kira ia mengharapkan saya untuk sukses tapi saya salah.

Belum lama ini salah satu klien saya datang berkunjung. Ia memiliki bisnis kecil yang tidak terlalu lancar. Ia benar-benar stres dan sakit, berusaha bertahan, dan jelas sedang berada di ujung tanduk. Saya bisa melihat bahwa ia tidak mampu melanjutkan bisnis itu lagi; ia sepenuhnya lelah. Namun, alasannya untuk terus berusaha adalah karena ia meminjam $300.000 dari orangtuanya untuk memulai bisnis ini, yang sedang berada di ambang kegagalan. Ia yakin bahwa orangtuanya tidak akan mampu menanggung rugi sebesar itu, bahwa ini bisa sepenuhnya menghancurkan mereka. Kami membuat rencana untuk mencoba membangun kembali bisnis tersebut, tapi jauh dalam hati saya pikir itu tidak mungkin karena ia begitu kelelahan dan lemah.

Beberapa hari kemudian saya tiba-tiba menerima telepon dari ayahnya. Ia ingin berbicara dengan saya karena mengkhawatirkan kesejahteraan anaknya. Kisah dari sisi si ayah sangat berbeda. Ia sama sekali tidak peduli dengan uang itu. Ya, itu memang pukulan besar, tapi ia akan mengatasinya dan melanjutkan hidup. Satu satunya hal yang ia khawatirkan adalah kesehatan anaknya, tapi ia takut berbicara seperti ini kepada anaknya karena ia tidak ingin anaknya merasa seperti orang gagal.

Inilah tepatnya yang saya bicarakan dalam bab ini. Harapan yang dimiliki si anak menghancurkan dirinya sendiri. Masalah utama yang mereka hadapi di sini adalah masalah komunikasi; masalah bisnis adalah masalah sekunder. Untungnya mereka bisa menyelesaikan kesalahpahaman yang ada di antara mereka. Akhirnya mereka menjual bisnis itu, mendapatkan kembali sebagian kerugian dan melanjutkan hidup dengan jauh lebih sehat dan bahagia.

Jangan berasumsi bahwa Anda mengetahui harapan orang lain terhadap diri Anda. Akan jauh lebih baik untuk membicarakan dan mengklarifikasi apa harapan mereka, kemudian menentukan apakah Anda bisa memenuhinya atau tidak. Jangan biarkan persepsi Anda membuat stres Anda sendiri.

Apa yang bisa saya lakukan hari ini?

Apa yang memotivasi Anda? Siapa orang yang Anda rasa memiliki harapan paling tinggi terhadap diri Anda? Maukah Anda mempertimbangkan untuk berbicara dengan mereka untuk mencari tahu apakah harapan mereka memang setinggi yang Anda pikir?

bolaskor.me

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mitos harapan"

Posting Komentar